Disrupsi Ibadah: e-Salaman, lalu e-Sungkeman

Home / Kopi TIMES / Disrupsi Ibadah: e-Salaman, lalu e-Sungkeman
Disrupsi Ibadah: e-Salaman, lalu e-Sungkeman Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah, Minal Aldin Fadzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

TIMESCILACAP, MALANG – Ini masih soal disrupsi ibadah. Akibat tuan Corona yang masih mengganas itu. Yang memaksa muslimin muslimat untuk menjalani e-salaman dan e-sungkeman itu. 

Yang bikin e-mudik. E-sungkeman. E-halal bihalal. E-maaf-maafan, e-sepuroan. Dan e-e-e lainnya itu.

*

Tradisi local wisdom nusantara yang terjadi di Hari Raya Idul Fitri ini pun dikoyak-koyak. Di-disrupsi. Besar-besaran. Oleh makhluk Tuhan kecil yang mirip buah rambutan itu. 

Sejak Menag RI menyampaikan bahwa Lebaran dilaksanakan Minggu, 24 Mei 2020, e-minal aidzin wal faizin (maaf-maafan) bertebaran. Di grup-grup WA, japri, DM. Sesekali sudah ada yang telepon. 

Teranyar pakai video call. Yang WA sudah bisa untuk delapan orang. Yang Zoom sungkem bisa sampai 100, 300, dan 10 ribu. Bahkan ada gratisan 40 menit untuk 100 orang. Cukup untuk keluarga besar.

Ada lagi. Pakai Google Meet. Yang sekarang bisa 50 orang. Free. 

Lalu bisa pakai Skype. Cisco. Dan masih banyak lainnya. 

Sebenarnya sudah lama e-minal aidzin wal waizin ini dijalani. Setidaknya sejak era SMS muncul. Lalu, diperbanyak setelah WA. Telegram. Dan medsos lainnya.

Sebelumnya hanya teks dan gambar. Sedikit modifikasi dengan gift. Ada pula yang flash. 

Dulu, 2-3 tahun lalu, masih belum banyak yang face to face. Tatap muka di layar HP. Bisa lihat wajah dan suaranya langsung. 

Sekarang sudah bisa semua. Bahkan bisa dengan banyak wajah. Banyak orang.

Sekeluarga besar pun bisa. Saling bisa melihat wajah. Bisa dijadwal pula. 

Besok misalnya. Kami sekeluarga sudah menjadwal. E-Sungkem ke orang tua di kampung usai shalat Ied di rumah. 

Dilanjut e-salaman dengan keluarga lainnya. Sanak famili. Gantian. 

Lalu dengan teman-teman lainnya. Se-kantor. Seperjuangan. Seorganisasi. Dan nafsi-nafsi juga dibikinkan waktu. Dengan daring.

Harus dijadwal memang. Seperti kunjungan pada umumnya. Giliran. Dari pagi sampai sore. Sore sampai malam juga ada agenda.

Persis seperti unjung-unjung. Seperti silaturahim biasa. Hanya ini dijadwal daring. Online. 

Bisa pakai G_Meet. Atau Zoom. Rame-rame. Minimal pakai WA video call. Toh semuanya rata-rata sudah punya. Apalagi sudah ada grup sebelumnya. Tinggal pencet VC. Jadilah.

So, memang e-salaman dan e-sungkeman ini bisa dikemas dengan schedule. Persis seperti aslinya. Silaturahim darat.

Hanya memang tidak ada makan rengginangnya. Atau jajanan roti kering. Nastar, kerupuk, opor ayam. Tidak pakai itu.

Pun angpao untuk ponakan-ponakan. Mungkin nanti setelah Corona berlalu. Atau ditransfer saja. Bisa pakai OVO. Go Pay. 

Bahkan bisa iseng diisikan paket data di HP ponakan-ponakan. Dipilihkan yang agak kenceng bandwidth-nya. Biar bisa dibuat e-sungkeman daring.

Suasananya juga bikin riil. Kalau bisa tidak sendiri. Ajak keluarga. Kumpul. Di_live bersama. Atur persis seperti sedang silaturahim darat.

Semuanya sangat mungkin kok. Teknologinya juga sangat memungkinkan. Hanya kudu sabar. Yang kawasannya blank. Lemot sinyal. Tapi tetap kita coba saja. 

Dan satu lagi. Cara ini semua sekarang boleh. Bahkan dianjurkan. Oleh negara pula. Namanya juga sudah ditemukan. Hidup di era new normal. 

Oleh tradisi juga dimaklumi. Percaya deh. Dijamin tidak ada yang marah. Apalagi mengatai yang jelek. Kita semua mamaklumi. 

Ayok kita coba. Kita di rumah saja. Tapi tetap bisa riyayan. Dengan semuanyanya. 

Bahkan mungkin bisa jadi habit baru. Pride baru juga. Bisa tersambung dengan seluruh keluarga lewat daring.

Jika saat silaturahim putus-putus sinyalnya. Ayok ramai-ramai kita salahkan operator selulernya. Katakan bahwa mereka jadi biang terputusnya e-riyayan kita. Dak apa-apa. Itu hak konsumen. 

Hanya perlu diingat, nanti jika sudah normal, sungkem tatap muka tetap perlu. Dan wajib bagi kita ke orang tua kita. Wajib!

Kalau sekarang bolehlah. Karena itu menjadi bagian kita mencintai orang tua kita. Agar tuan corona yang mungkin nempel di baju kita tidak sampai membunuh orang tua kita!

Sudah ya. Akhirnya kami sekeluarga dan atas nama keluarga besar TIMES Indonesia mengucapkan; Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya kariim. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Wal afwu minkum. Minal aidzin wa faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Kita nikmati dan jalani e-salaman dan e-sungkeman ini lewat e-minal aidzin wal faizin. Tahun ini kita coba berdamai dengan disrupsi ibadah. (*)

*) Penulis adalah Khoirul Anwar, CEO TIMES Indonesia Network. Tulisan ini sebagai bagian dari e-riyayan untuk seluruh sahabat, rekan kerja, klien, relasi, kolega, dan pembaca setia TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com